Terus Berinovasi, Batik Semar Rambah Pasar Kaum Milenial

Terus Berinovasi, Batik Semar Rambah Pasar Kaum Milenial

Berbagai jenis batik.

(rel/rzd)

Jumat, 26 April 2019 | 20:35

Analisadaily (Medan) - Sebagai identitas bangsa, saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mengenakan batik dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk kegiatan formal, bahkan pada kegiatan non formal seperti bekerja di kantor hingga hanya sekadar berkumpul, banyak masyarakat yang mengenakan batik.

Melihat batik kini menjadi tren di masyarakat, membuat Batik Semar terus berinovasi untuk dapat menyediakan berbagai jenis, motif, dan ukuran untuk masyarakat Indonesia. Salah satunya anak-anak muda dan kaum milenial.

“Batik saat ini banyak dipakai orang-orang dalam sehari-hari. Semakin ke depan, batik semakin terjangkau dan semakin nyaman digunakan, karena batik sebagai identitas bangsa kita,” kata Owner Batik Semar, Ardianto Suwono, saat meresmikan toko terbaru di Manhattan Times Square, Kota Medan, Jumat (26/4).

Ardianto menyebut, pihaknya memiliki startegi khusus untuk menggaet anak-anak muda di Indonesia dan kaum milenial agar memilih batik sebagai fesyen, yaitu dengan cara menghadirkan motif-motif batik yang kekinian dan dikombinasikan dengan warna-warna yang modern.

“Kita variasikan dengan warna-warna yang modern, jadi tidak hanya warna tua. Kita variasi dan kombinasi menarik. Kita juga sesuaikan dengan tren yang sering dipakai kaum milenial, yaitu slim fit, baik wanita maupun pria,” sebutnya.

Batik Semar didirkan 1947 dan menjadi perusahaan tahun 1981. Saat ini dijalankan generasi ketiga, dan pusatnya di Solo, Jawa Tengah. Mulai dari kantor pusat, toko pertama, produksi dan pabrik, semua di Solo.

“Secara keseluruhan atau nasional, Batik Semar memiliki sekitar 59 toko. Di Manhattan Times Square merupakan yang terbaru. Di Indonesia, kita di hampir seluruh kota besar selalu ada. Range harga cukup variasi, mulai Rp 300.000-an sampai Rp 10 juta-an,” ujarnya.

Pimpinan Cabang Medan, Monang Panjaitan menjelaskan, Batik Semar di Medan ada 4. Pusatnya berada di Jalan Zainul Arifin, juga ada di Thamrin Plaza. Sedangkan di Manhattan Times Square yang keempat, relokasi dari Plaza Medan Fair, dan rencana akan dibuka di Centre Point.

“Pasar batik untuk masyarakat Medan cukup bagus, saat ini batik menjadi tren. Orang mulai mengerti, Batik Semar adalah batik berkelas dan bisa dipakai dari mulai anak muda hingga orang tua. Kita berani kasih warna, sehingga yang muda senang memakainya, apalagi yang orang tua,” jelasnya.

“Pada pembukaan di Manhattan Times Square, kita punya promo diskon 20 persen all item sampai 30 April 2019,” lanjutnya.

Batik Semar di Manhattan Times Square, Medan.

Batik Semar di Manhattan Times Square, Medan.

Chief Marketing Officer, Oktavianus S. Pranoto menambahkan, motif di Batik Semar selalu dikreasikan secara kontinu, juga selalu melakukan pengembangan terhadap motif, pemakaian bahan dan lain-lain. Hal ini dilakukan setiap bulan secara periodik.

“Jadi, di kita ada motif-motif baru terus. Tidak bisa kita bicara hanya satu jenis motif yang terbaik, tidak bisa. Kita terus kembangkan,” ungkapnya.

Oktavianus memastikan, Batik Semar memiliki koleksi lengkap, mulai dari printing, cap atau stamp, kombinasi, artinya cap dan tulis, serta tulis. Bahan yang dipakai, mulai dari katun, dobby, terus viscose, dan sutra.

“Paling banyak diminati masyarakat, terutama di Medan adalah katun dan dobby. Karena katun kita bahannya khusus, dingin, dan kualitas bagus. Kita punya garansi, jika sampai luntur kembali saja ke sini. Artinya, luntur sendiri, bukan sengaja untuk dilunturkan,” terangnya.

Tips Merawat Batik

Oktavianus juga memberikan tips bagi masyarakat untuk merawat batik. Dikatankannya, batik secara ideal jangan terkena sabun kimia, terlebih bubuk deterjen, karena bubuk deterjen memiliki bahan yang sangat keras sekali, sehingga dapat merusak batik apapun.

“Batik akan pudar, pasti itu,” sebutnya.

Disarankannya, masyarakat lebih baik merawat batik dicuci dengan lerak, yang terbuat dari buah dan bahannya tradisional atau alami. Lerak merupakan sabun khusus batik. Hanya saja, banyak masyarakat memikirnya terlalu mahal, atau perawatannya terlalu susah.

“Kalau begitu, beralih ke sabun likuid. Sabun deterjen likuid itu masih bisa. Kita ada jual lerak, harganya paling kecil Rp 20.000, bahannya cair,” tuturnya.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar