Tantangan Suku Sherpa Perbaiki Rute Pendakian Gunung Everest

Penulis: Elfa Harahap | Editor: Reza Perdana

Tantangan Suku Sherpa Perbaiki Rute Pendakian Gunung Everest

Everest (Google)

Kamis, 10 September 2015 | 13:45

Analisadaily - Tepat pukul 11:56 waktu setempat, gempa bumi menghancurkan Nepal. 25 April 2015, gempa bumi terjadi di episenter sekitar 29 km (18 mi) dari timur-tenggara Lamjung, Nepal dan pusat gempa terjadi di kedalaman sekitar 15 km (9.3 mi).

Peristiwa ini menjadi gempa bumi paling kuat yang mengguncang Nepal sejak 1934 yang terjadi di Bihar. Setidaknya, 8,947 orang diketahui tewas. Gempa bumi berkekuatan 7,8 skala ricther ini dapat dirasakan di beberapa wilayah di India Utara, Tiongkok dan Bangladesh.

Gunung Everest (Rm Guides)

Gunung Everest (Rm Guides)

Bangunan-bangunan berusia lama hancur. Banyak Situs Warisan Dunia UNESCO yang tidak dapat diselamatkan lagi di Lembah Kathmandu, termasuk beberapa bangunan di Alun-alun Kathmandu Durbar dan menara Dharahara di Kathmandu.

Kondisi Nepal secara tektonik menjadi wilayah yang dibentuk dari proses tumbukan lempeng benua India, dan termasuk wilayah di bawah benua Eurasia berkecepatan 45 milimeter per tahun. Gempa 25 April 2015 merupakan mekanisme pergeseran maksimum pada bidang gempa mencapai 4 meter. Luas bidang yang bergeser itu mencapai 160 x 120 kilometer.

Rute Gunung Everest. (BBC)

Rute Gunung Everest (BBC)

Selain merusak bangunan-bangunan bersejarah, gempa ikut merusak gletser-gletser yang ada di Gunung Everest. Jalur pendakian tidak dapat digunakan lagi, karena tertimbun es. Setidaknya, ada 100 jenazah yang tertimbun saat gempa tersebut terjadi.

Lima bulan pasca gempa, jalur pendakian kembali di buka. Sebelum di buka, jalur terlebih dahulu diperbaiki dan dibersihkan dari es. Suku Sherpa adalah suku yang paling dekat dengan wilayah Everest.

Menjadi tantangan tersendiri bagi suku Sherpa untuk membersihkan jalur dari bongkahan-bongkahan es besar antara base camp yang satu ke base camp yang lain.

Tenda para pendaki tertimpa reruntuhan es. (BBC)

Tenda para pendaki tertimpa reruntuhan es (BBC)

Kegigihan mereka untuk mengembalikan jalur pendakian begitu bersemangat. Bongkahan-bongkahan es yang ada di wilayah Icefall atau berada di antara base camp dasar dan base camp pertama berhasil diselesaikan hanya dalam satu minggu. Icefall adalah salah satu wilayah paling berbahaya yang ada di puncak tertinggi dunia tersebut.

Pemimpin tim, Ang Kami Sherpa, mengatakan kepada BBC bahwa banyak pendaki yang telah tertimbun di base camp pertama. Terlihat dari banyaknya peralatan mendaki yang tertinggal di wilayah itu.

"Salju masih menumpuk di banyak daerah karena longsor terus terjadi di kawasan lereng gunung. Sekarang kami menggunakan tali dan tangga. Tidak akan sulit bagi pendaki yang sudah ahli, namun sulit bagi pemula," kata Ang.

Setelah jalur pendakian dibuka pasca gempa, hanya ada satu tim dengan dua pendaki Jepang yang mendaki Everest tahun ini. Salah satunya adalah Nobokazu Kuriki. Dia berencana mendaki sendiri dari base camp dua hingga ke puncak.

Meski tidak adanya gempa yang cukup sering terjadi. Pada bulan Mei 2014, sebuah longsor besar menewaskan 16 pendaki. Kejadian ini membuat Everest kembali ditutup untuk seluruh pendakian. Pemerintah memindahkan rute pendakian dari Khumbu Icefall ke lokasi yang lebih ke tengah untuk menghindari longsor yang dapat terjadi kapan saja.

Untuk Tiongkok, negara ini belum membuka kembali rute dari negaranya akibat longsor di Tibet yang disebabkan oleh gempa yang sama. Pemerintah Nepal dan pihak pariwisata meyakinkan wisatawan bahwa Nepal saat ini sudah aman.

Di musim yang akan datang, pemerintah telah memberikan izin kepada 200 pendaki atau 30 tim untuk berkunjung ke Everest.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar