Senator Australia Keluhkan Perawatan Monumen Bom Bali

Penulis: Christison Sondang Pane | Editor: Ria Situmorang

 Senator Australia Keluhkan Perawatan Monumen Bom Bali

Monumen Ground Zero Bali di Jalan Legian, Kute, Bali (Daily Mail)

Jumat, 16 September 2016 | 10:14

Analisadaily – Senator Australia, Pauline Hanson, mengeluh tentang kondisi monumen bom Bali I atau dikenal Monumen Ground Zero Bali, sangat memalukan. Dia mengatakan itu sepekan sebelum peringatan peristiwa yang menewaskan 202 orang pada 12 Oktober 2002.

“Saya yakin banyak dari warga Australia dan orang lain di seluruh dunia akan pergi ke sana pada 12 Oktober 2016 untuk memberikan penghormatan. Saya juga berharap mereka dapat bertindak bersama-sama dan membersihkannya karena jika tidak, saya pikir itu akan menjadi aib,” kata Hanson.

Dia berpendapat, sekitar $ 379 juta dana diberikan kepada Indonesia dalam bantuan asing untuk merawat situs tersebut. Upah rata-rata yang diberikan per pekannya sebesar $ 35 hingga $ 70, namun pekerjanya tidak dapat menunjukkan rasa hormat dan tempat itu tidak bersih.

Hanson menyampaikan, 22 bendera yang mewakili setiap negara yang merupakan korban sudah tidak lengkap lagi. Dinding yang dihiasi dengan ukiran tradisional ‘Kayonan’ yang juga menampilkan plakat marmer dengan nama-nama korban sudah gelap karena tertutup jamur.

Kolam bergambar teratai di depan monumen sudah berlumbut (Daily Mail)

Kolam bergambar teratai di depan monumen sudah berlumbut (Daily Mail)

Dia juga menambahkan air mancur yang bergambar bunga teratai terlihat sudah berlumut dan sekarang airnya sudah berwarna hijau serta pancurannya juga sudah tidak berjalan. Bukan hanya itu, pagarnya rusak dan kawat pengikatnya juga sudah berkarat.

Dilansir dari Daily Mail, Jumat (16/9), sebanyak 202 korban tewas atas serangan bom, dinataranya 37 warga negara Indonesia, 88 Australia, Selandia Baru 2, Belanda 4, Denmark 3, Inggris 23, Italia 1, Jerman 6, Perancis, 4, Portugis 1, Polandia, 1, Swedia 5, Swiss 3, Yunani 1, Amerika Serikat 7, Brasil 2, Equador 1, Canada, 2, Afrika Selatan 2, Jepang 2, Taiwan 1 dan Korea 2.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar