Mendulang Uang di Rute Terbang Jarak Jauh

Mendulang Uang di Rute Terbang Jarak Jauh

(Ilustrasi)

(rel/rzd)

Rabu, 4 September 2019 | 15:45

Analisadaily - Pada 2018 lalu, Singapore Airlines membuka rute penerbangan super jauh (ultra long haul flight) dari Singapura ke New York, yang menjadi penerbangan langsung terjauh memakan waktu tempuh sekitar 18 jam. Maskapai dengan kode penerbangan SQ dari IATA ini berhasil mengalahkan rekor penerbangan jarak jauh sebelumnya, Doha-Auckland, yang dilayani Qatar Airways dengan waktu tempuh 16 jam non-stop.

Meski tiket rute penerbangan jarak jauh terbilang mahal, namun penerbangan jarak jauh menjadi penyumbang pendapatan terbesar dari beberapa maskapai penerbangan yang mempunyai rute- rute jauh lainnya, seperti Emirates yang melayani rute penerbangan jarak jauh London Heartrow-Singapura dan American Airlines yang melayani rute penerbangan jarak jauh Los Angeles-New York.

Tiket Singapore Airlines untuk rute penerbangan Singapore-New York pada 8 Oktober 2019 dimulai dari harga 2,098 dolar Singapura atau seniliai Rp 21 juta. Dari hasil penulusuran, tiket pesawat SQ dengan rute Singapura-New York merupakan tiket termurah dibanding beberapa maskapai pesawat lain yang melayani penerbangan dengan rute yang sama dengan maksimal transit 1 kali.

Padahal pada tahun 2013 lalu, Singapore Airlines pernah menutup rute penerbangan Singapura-New York karena biaya bahan bakar yang sangat tinggi, membuat rute penerbangan antar benua ini tidak menguntungkan secara bisnis. Dengan amunisi terbaru mereka, Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines kembali mereinkarnasi rute penerbangan jarak jauh tersebut pada tahun 2018 kemarin.

Airbus A350-900ULR dirancang untuk terbang lebih dari 20 jam non-stop dengan konsumsi bahan bakar lebih hemat 26 persen dibandingkan dengan pesawat yang dipakai oleh Singapore Airlines untuk rute penerbangan yang sama sebelum ditutup pada tahun 2013 lalu, yakni Airbus A340-500.

Rute penerbangan langsung jarak jauh memerlukan biaya yang cukup besar, hanya maskapai tertentu dengan modal yang kuat yang mampu memberikan layanan rute penerbangan jarak jauh non-stop seperti Singapore Airlines.Oleh karena itu wajar jika maskapai- maskapai penerbangan yang melayani rute jarak jauh mematok harga yang sangat fantastis untuk pelayanan jasa yang mereka berikan tersebut.

Dari hasil penulusuran di situs Blibli, harga tiket penerbangan Singapura-New York untuk kelas premium ekonomi saja, Singapore Airlines mematok harga Rp 21 juta untuk sekali pergi. Sementara harga tiket untuk kelas bisnis, Singapore Airlines mematok harga Rp 60 juta untuk satu kursi.

Harga tiket yang cukup fantasis ternyata tidak membuat peminat rute penerbangan jarak jauh non-stop surut.Dengan target pasar kelas menengah ke atas, wajar jika permintaan penerbangan rute jarak jauh tidak pernah surut. Banyaknya permintaan penumpang untuk rute penerbangan jarak jauh, membuat maskapai-maskapai penerbangan, terutama maskapai pesawat terbang dengan modal kuat seperti Emirates dan Singapore Airlines berlomba-lomba membuka rute penerbangan jarak jauh.

Menurut OAG, sebuah perusahaan data penerbangan, hingga tahun 2018, ada 19 penerbangan jarak jauh terjadwal secara teratur yang menempuh jarak setidaknya 7.000 mil laut (12.964 kilometer).

Bangkitnya rute penerbangan jarak jauh disebabkan oleh meningkatnya teknologi pesawat terbang yang lebih ringan dan lebih hemat bahan bakar serta meningkatnya permintaan rute pernebangan jarak jauh dari para pelancong, terutama pebisnis. Turunnya harga avtur juga jadi alasan mengapa maskapai penerbangan dunia terus berlomba-lomba menawarkan penerbangan rute jarak jauh.

Semakin ringan beban pesawat, membuat penggunaan bahan bakar semakin rendah. Rata- rata pesawat yang terbang di era modern saat ini terbuat dari serat karbon yang mampu membuat pesawat lebih ringan, namun masih mampu mengangkut lebih dari 300 penumpang berserta kru kabin dan barang bawaan mereka. Hal ini berdampak pada harga tiket penerbangan jarak jauh yang turun dalam beberapa tahun terakhir.

Rute penerbangan yang memiliki jarak lebih dari 5.000 km (3.100 mil) umumnya mengalami penurunan harga 30 persen di kursi kelas ekonomi, bahkan sampai 50 persen untuk rute penerbangan trans atlantik.

Dalam rute penerbangan jarak jauh bukan hanya jasa layanan penerbangan saja yang ditawarkan oleh para maskapai- maskapai pesawat terbang tersebut, tapi fasilitas-fasilitas lainnya, seperti makanan, hiburan dan lain- lain. Dari layanan premium tersebut maskapai penerbangan yang menawarkan rute jarak jauh mendapatkan keuntungan yang lebih.

Data dari Forbes melaporkan, pada periode April 2017-Maret 2018, rute penerbangan jarak jauh New York JFK-London Heathrow menyumbang pendapatan US$1,04 miliar bagi British Airways.Disusul oleh rute penebangan Melbourne-Sydney yang memberi pendapatan US$855 juta bagi Qantas Airways.Lalu Emirates yang berhasil mendapat keuntungan US$819 juta dari rute penerbangan jarak jauh London Heathrow-Dubai.

Meski memilki potensi yang sangat besar dalam meraup keuntungan, namun maskapai penerbangan sangat berhati- hati dalam membuka rute penerbangan jarak jauh.Alih- alih mendapat untung, perhitungan yang salah dalam membuka rute membuat maskapai bisa merugi dalam waktu yang singkat.

Jangan heran jika rute- rute penerbangan jarak jauh yang dibuka umumnya di wilayah pusat bisnis atau jalur- jalur strategis yang sering menjadi pemberhentian sementara atau transit dari sebuah kawasan, seperti Hong Kong dan Singapura. Kedua kota tersebut, merupakan markas beberapa perusahaan multinasional di wilayah Asia-Pasifik. Oleh karena itu, tak heran jika banyak maskapai penerbangan yang membuka rute penerbangan jarak jauh di kedua lokasi tersebut.

Gagalnya Maskapai Low-Cost Carrier Masuk Sektor Long Haul Flight

Maskapai penerbangan low-cost carrier telah berhasil mendisrupsi industri penerbangan.Sampai era awal 2000-an menggunakan transportasi pesawat terbang adalah kemewahan tersendiri, terutama bagi masyarakat Indonesia. Semenjak maskapai low cost carrier bertebaran, siapa pun jadi bisa terbang dan membuat persaingan harga tiket pesawat terbang menjadi lebih kompetitif dibanding sebelumnya.

Qantas Airways, salah satu maskapai penerbangan berkinerja terbaik di dunia, berhasil menghasilkan laba sebesar $ 980 juta pada tahun 2018 lalu. Pendapatan fantastis Qantas Airways tersebutberhasil dilewati oleh dua maskapai low cost carrier yakni, Southwest dan Ryanair.Pada tahun lalu, Southwest berhasil meraup keuntungan sebesar 2,5 miliar dolar Amerika Serikat, sedangkan Ryanair berhasil mendapat keuntungan sebesar 1 miliar euro.

Meski berhasil merevolusi industri penerbangan dengan memberikan kesempatan bai siapapun untuk terbang dengan harga tiket penerbangan yang terjangkau, namun ada area yang hingga saat ini sulit dikuasai oleh maskapai penebangan low cost carrier ini, yakni rute penerbangan jarak jauh.

Tidak sedikit maskapai low cost carrier yang telah masuk ke rute penerbangan jarak jauh dan mencoba menaklukan kerasnya persaingan di area ini, beberapa di antaranya adalah AirAsia X, Eurowings, Jetstar, LEVEL, Norwegian, Scoot, WOW Air merupakan beberapa nama maskapai yang menyediakan layanan LHLCC. Beberapa nama yang disebutkan di atas harus menyerah karena besarnya biaya yang harus ditanggung mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi mereka.

Tahun lalu, maskapai low cost carrier Primera mencoba mendobrak dinding tebal tersebut dengan menawarkan rute penerbangan jarak jauh, transatlantik dari Amerika Serikat ke Eropa dengan harga yang cukup terjangkau. Sayangnya terobosan Primera tersebut harus dibayar mahal, setelah 6 bulan mereka dinyatakan bankrupt karena harus menanggung kerugian yang cukup besar.

Banyak analis berpendapat rute jarak jauh yang dipilih oleh Primera untuk beroperasi yakni, Birmingham-New York dan Berlin-Boston dianggap terlalu beresiko.Analisis menyeluruh terhadap pemesanan tiket, tarif, jadwal penerbangan, atau data penumpang di bandara rute- rute Primera beroperasi  menunjukkan keputusan bisnis Primera tersebut salah dan sangat beresiko tinggi untuk gagal.

Primera bukan yang pertama, Air Asia dengan Air Asia X-nya pernah mencoba peruntungan ini.Mereka dipaksa menyerah setelah gagal berkompetisi dengan maskapai penerbangan reguler di rute Kuala Lumpur- London. Air Asia X hanya mampu bertahan selama 1 tahun sebelum memutuskan untuk menutup rute penerbangan jarak jauh tersebut.

Salah satu kesalahan utama maskapai low coast carrier di rute penerbangan jarak jauh adalah tidak adanya fasilitas kelas bisnis yang berperan penting dalam menambah pendapatan di rute penerbangan jarak jauh.Padahal maskapai- maskapai penerbangan reguler banyak mendulang pendapatan dengan menjual kursi bisnis serta berbagai macam fasilitas yang ditawarkannya di wilayah operasi rute- rute penerbangan jarak jauh mereka.

Primera Air tidak sendiri, Wow Air, masakapai penerbangan asal Islandia terpaksa harus tutup buku setelah tidak mampu menangung beban kerugian yang harus mereka derita. Wow Air menawarkan penerbangan jarak jauh murah antara Eropa dan Amerika Utara melalui hub di Keflavik, Islandia.

Penumpang dapat membeli tiket dasar dengan harga terendah.Namun, tiket ini hanya memungkinkan mereka membawa satu barang pribadi. Penumpang harus membayar biaya tambahan untuk memilih kursi dan membawa barang bawaan  tambahan. Penumpang juga dapat meningkatkan tiket mereka dengan biaya tambahan untuk memasukkan berbagai fasilitas seperti makanan, boarding prioritas, dan bebrapa fasilitas lainnya.

Sayangnya, kesalahan dalam mengambil keputusan bisnis membuat Wow Air harus menelantarakan 2.000 penumpang mereka tanpa kepastian di beberapa bandara di Eropa dan Amerika Serikat, setelah opsi penyelamatan maskapai untuk menjual Wow Air ke Icelandair gagal terlaksana di menit-menit akhir.

Pelopor penerbangan biaya rendah jarak jauh, Norwegian harus menderita kerugian 164 juta dolar Amerika di rute penerbangan jarak jauh trans atlantik. Untuk menambal kerugian tersebut, Norwegian menutup semua penerbangan dari Edinburgh dan London ke Singapura, lokasi yang menjadi primadona dalam penerbangan jarak jauh.

Lufthansa terpaksa menutup maskapai low cost carrier rute jarak jauh mereka, Eurowings karena terus menderita kerugian. Eurowings akan memaksimalkan rute penerbangan jarak pendek di wilayah Eropa.

Kerugian-kerugian tersebut sebenarnya bisa diantisipasi jika maskapai penerbangan biaya rendah jarak jauh mampu memaksimalkan penggunaan big data dalam menentukan keputusan bisnis mereka. Namun, biaya dalam mengoleksi data serta menganalisis data tersebut tidak lah murah.Belum lagi biaya bahan bakar yang fluktuatif membuat maskapai penerbangan biaya rendah jarak jauh akan kesulitan untuk berkompetisi dengan maskapai reguler dalam jangka panjang.

Selain itu, penggunaan jenis pesawat juga sangat berpengaruh pada biaya operasional maskapai- maskapai low cost carrier dengan rute jarak jauh. Penggunaan jenis pesawat dengan body yang lebar akan menambah biaya bahan bakar dan membuat maskapain penerbangan bertarif rendah yang melayani rute jarak jauh untuk bersaing dengan maskapai- maskapai  reguler yang menawarkan pelayanan yang sama. Atas alasan ini pula maskapai- maskapai biaya rendah yang melayani rute penerbangan jarak jauh mengunakan jenis pesawat narrowbody.

Sayangnya hal tersebut belum mampu membuat maskapai- maskapai low cost carrier yang melayani rute penerbangan jarak jauh bertahan dalam ketatnya kompetisi di sektor ini.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar