Gunung Rinjani Pertama Meletus Tahun 1846, ini Sejarahnya

Penulis: Lely Novita

Gunung Rinjani Pertama Meletus Tahun 1846, ini Sejarahnya

(dtc)

Rabu, 4 November 2015 | 14:51

detikNews - Jakarta, Letusan Gunung Rinjani yang tercatat pertama adalah pada tahun 1846. Sedangkan yang terakhir, diketahui tahun 2009. Ini sejarahnya. 

Dikutip dari situs Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dalam kurun 1846-2009, diketahui ada 11 kali Gunung Rinjani meletus. Letusan umumnya menghasilkan lava dan jatuhan piroklastik. Piroklastik adalah bebatuan clastic semata-mata atau terutama terdiri dari material vulkanik. 

Berikut sejarah letusan Gunung Rinjani:

1846 

Zollinger mengatakan, dalam tahun 1846 kegiatan Gunung Rinjani dalam stadia fumarola (kawah lubang di daerah vulkanis yang mengeluarkan gas bercampur uap), selanjutnya letusan yang terjadi berlangsung di dalam Kaldera Rinjani (Gunung Barujari dan Gunung Rombongan/Gunung Mas).

1884 

Dalam Natuurkunding Tijdschrift voor Nederl. Indie, v. 45, mencantumkan bahwa asap dan nyala api tampak pada beberapa hari pertama bulan Agustus. 

1901 

1 Juni, pukul 23.00 terdengar suara ledakan, dan malam berikutnya di Mataram terjadi hujan abu tipis. 

1906 

April, pukul 21.15 terdengar suara ledakan. 

1909 

30 November, pukul 21.15 hujan abu di Lombok yang berlangsung hingga 2 Desember. Setelah itu tampak kegiatan meningkat berupa asap tebal yang mengepul. Air sungai tampak keruh.

1915 

4 November tampak tiang asap. 

1944 

30 Mei terlihat asap di atas puncak G. Rinjani. Menurut Petroeschevsky kegiatan mulai pada 25 Desember 1943. Pukul 16.00 terdengar suara gemuruh yang disusul dengan hembusan asap tebal. Pada malam hari tampak sinar api dan kilat sambung-menyambung. Gempa bumi terasa terjadi antara 25 - 30 Desember disertai suara gemuruh. Hujan abu turun selama 7 hari dengan lebatnya, merusak tanaman dan rumah. 
 
Gunung Rombongan atau Gunung Mas muncul dari dalam danau (2.110 m) yang berada di kaki Gunung Barujari sebelah baratlaut, melebar ke utara dan barat. Mitrohartono (1969) menghitung, bahwa jumlah bahan baru yang dikeluarkan waktu itu adalah sebanyak 7,4 x 107 meter kubik (Kusumadinata (1969, 1973)) dengan menggunakan rumus Yokoyama (1956 - 1957) telah menghitung Energi Kalor yakni 2,3 x 1024 erg, sedangkan Kebesaran Letusan adalah 8,98 dan Kesetaraan Bom Atomnya 273,8.  
1966 

28 Maret Pulau Lombok digoncang gempa bumi. Sejak itu terdengar suara dentuman berasal dari Segara Anak.  
21 Mei terlihat dari puncak Gunung Punduk, bahwa di sebelah selatan kepundan Gunung Baru tampak ke luar pasir dari dasar Segara Anak menuju ke utara dan melebar ke barat dan timur. Persentuhan pasir panas dengan air Segara Anak menyebabkan terjadinya suatu kukusan, asap mengepul. 
 
Kusumadinata (1969), mengatakan bahwa yang disebut pasir panas ini pada hakekatnya adalah lava baru yang muncul di lereng Gunung Barujari sebelah timur, yang mencapai Segara Anak di utara dan Segara Endut di selatan. 

1994 

(dtc)

(dtc)

4 Juni, pukul 02.00 Wita terjadi suatu ledakan sangat kuat yang berasal dari dalam Kaldera Rinjani, terdengar hingga di Desa Sembalun. Pukul 08.00 terlihat asap hitam tebal membumbung ke udara mencapai tinggi 400 m dari puncak Gunung Plawangan.  
Pada 6 Juni, pukul 17.40 Wita terjadi hujan abu di sekitar Pos Pengamatan dengan ketebalan endapan 2 - 3 mm. Titik letusan mengambil tempat di Gunung Barujari dan berlangsung hingga awal bulan Januari 1995. Letusan tersebut tidak menyebabkan korban jiwa, hanya petani bawang di Sembalun gagal panen karena rusak oleh hujan abu. Volume material letusan sebesar. 

2004 

(dtc)

(dtc)

Terjadi letusan abu pada bulan Oktober  

2009 

(dtc)

(dtc)

Tanggal 2 Mei 2009 pukul 16.01 Wita terjadi letusan asap pada berwarna coklat pekat mencapai ketinggian 1000 meter di atas titik letusan di Gunung Barujari disertai suara dentuman lemah. Aliran lava mengalir dari titik letusan masuk ke dalam Danau Segara Anak. (nwk)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar