‘Critical Eleven’, 11 Menit Mengubah Hidup Ale Dan Anya

‘Critical Eleven’, 11 Menit Mengubah Hidup Ale Dan Anya

Critical Eleven (Ist)

(rel/rzp)

Senin, 15 Mei 2017 | 20:58

Analisadaily - Mengangkat novel laris jadi film adalah amanat besar, apalagi ketika pembacanya begitu fanatik dan telah jatuh cinta pada novelnya. Ketika Ika Natassa mempercayakan masterpiece-nya ke Starvision, semua seakan terbuka dan lokasi berat yang dipesan khusus seperti shooting di New York yang dipilih pas autumn, shooting di Rig dan shooting di pesawat terbang business class Singapore Airlines bisa terlaksana.

“Proses kreatif berjalan seru, karena semua yang terlibat berkeinginan terbaik untuk film ini. Bergabungnya Robert Ronny dari Legacy Pictures sebagai produser, menambah percaya diri saya dalam membiayai karya ini,” kata produser, Chand Parwez Servia, seperti ditulis Analisadaily.com, Senin (15/5).

Penulisan skenario melibatkan Jenny Jusuf, kemudian dibantu Monty Tiwa, Robert Ronny juga Ika Natassa. Pelaksanaan shooting didahulukan scene-scene New York untuk mendapatkan visual indah oleh DOP nomor 1 Indonesia, Yudi Datau.

Kursi sutradara diduduki Monty Tiwa dan Robert Ronny secara bersama-sama, duet ini adalah keputusan sempurna. Selesai New York, dilanjutkan shooting super berat di Rig, kemudian pesawat Singapore Airlines, dan penyelesaian sisa skenario yang berjalan menyenangkan ketika dunia Ale + Anya berinteraksi dengan lingkungannya yang semua dilakoni actors berkarakter.

Critical Eleven akhirnya siap memberi ruang imajinasi visual bagi pembacanya. Proses editing dari materi draft yang panjang sempat menciptakan wacana untuk dibuat 2 film, tetapi berangkat dari keinginan untuk memberi yang terbaik, akhirnya cerita luar biasa ini utuh jadi 1 film yang lengkap untuk kepuasan penonton.

“Tibalah saat Ika Natassa saya dampingi nonton final draft edit, saya merasa lega karena semua terdeliver sangat lancar dan menyentuh. Puncak kelegaannya adalah ketika Ika Natassa berdiri, dan memeluk saya,” jelasnya.

“Critical Eleven adalah drama keluarga yang indah, karena itu saya yakin bisa dinikmati bukan hanya oleh pembaca novelnya saja,” tambahnya.

Produser, Sutradara sekaligus Penulis Skenario, Robert Ronny menyebut, Critical Eleven adalah film yang personal. Karena setelah sekian lama, dirinya kembali menduduki kursi Sutradara di film ini. Awalnya ia tidak berencana menjadi sutradara film ini, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya ia berkolaborasi dengan Monty Tiwa sebagai sutradara.

“Sempat berdiskusi panjang lebar dengan Monty sebelum kami sepakat menyutradarai film ini berdua. Ternyata Monty yang sangat antusias menyambut ide ini. Dan karena kami sudah bersahabat sejak dulu, akhirnya saya juga sepakat untuk menyutradarai Critical Eleven dengan Monty,” ucap Robert.

Monty Tiwa menilai, mengadaptasi sebuah karya literatur menjadi film bukanlah hal yang mudah. Pihaknya harus bisa merangkum sebuah karya yang bercerita di dalam ratusan halaman menjadi sebuah bentuk audio visual dengan waktu yang terbatas.

Disebutkan, musuh utama dari film adaptasi adalah imajinasi para pembaca-nya. Karena dari 100 pembaca saja, dirinya berhadapan dengan 100 macam persepsi yang berbeda-beda.

“Mengadaptasi Critical Eleven karya Ika Natassa menjadi sebuah film, adalah tantangan yang paripurna bagi kami. Critical Eleven memiliki barisan penggemar yang fanatik dan sangat vokal. Bagaimana kami dapat membuat semuanya puas? Jawabannya tentu adalah, tidak mungkin bisa,” sebutnya.

Namun segenap daya upaya, pihaknya tetap melakukan untuk menghadirkan Critical Eleven ke dalam film sebaik mungkin. Karna karya literatur ini, baginya layak mendapatkan yang terbaik yang bisa diberikan.

Melalui Critical Eleven, pemenang Piala Citra, Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, menghidupkan Ale dan Anya dari novel national bestseller karya Ika Natassa, pasangan muda yang bertemu dan saling terpikat dalam penerbangan Jakarta-Sydney.

Pertemuan itu membawa mereka ke jenjang pernikahan dan membuat keduanya mengambil keputusan besar sebagai pasangan karena pengorbanan yang harus dilakukan salah satu dari mereka: pindah ke New York.

Kota yang tidak pernah tidur itu ternyata membawa berkah bagi keduanya. Kehamilan Anya yang mengubah hidup mereka. Sampai Ale dan Anya diterjang sebuah insiden yang membuat mereka tidak hanya mempertanyakan cinta, namun juga bergumul dengan ego dan harus memilih. Pilihan sulit bertambah pelik dengan kehadiran seseorang yang sudah lama mencintai Anya. 

(rel/rzp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar