CO2 di Atmosfer Mengalami Lonjakan Hingga 50 Persen

Penulis: Elfa Harahap | Editor: Reza Perdana

CO2 di Atmosfer Mengalami Lonjakan Hingga 50 Persen

CO2 di Bumi meningkat (BBC)

Rabu, 1 November 2017 | 11:40

Analisadaily - Konsentrasi CO2 di atmosfer melonjak ke rekor tertinggi pada 2016. Menurut World Meteorological Organization (WMO), lonjakan mencapai 50 persen di tahun 2016 dalam 30 tahun terakhir.

Peneliti mengatakan, kombinasi aktivitas manusia dan fenomena cuaca El Niño mendorong CO2 meningkat. Lonjakan berisiko membuat suhu global hampir tidak terdeteksi lagi. Pengukuran dilakukan di 51 negara.

Stasiun penelitian yang tersebar di seluruh dunia mengukur konsentrasi gas pemanasan, termasuk karbon dioksida, metana dan nitrous oxide. Tahun lalu, konsentrasi rata-rata CO2 mencapai 403,3 bagian per juta, naik dari 400ppm pada tahun 2015.

"Ini adalah kenaikan terbesar yang pernah kami lihat dalam 30 tahun terakhir. Kenaikan terbesar terjadi saat El Niño sebelumnya, kemudian pada tahun 1997-1998. Saat itu hanya naik 2,7ppm, dan sekarang 3,3 ppm," kata Dr Oksana Tarasova, kepala program menonton atmosfer WMO.

El Niño mempengaruhi jumlah karbon di atmosfer dan menyebabkan kekeringan yang membatasi penyerapan CO2 oleh tanaman dan pohon. Padahal, dilansir dari BBC, Rabu (1/11), jumlah kumulatif di atmosfer benar-benar penting karena CO2 tetap tinggi dan aktif selama berabad-abad.

Selama 70 tahun terakhir, kenaikan CO2 di atmosfer hampir 100 kali lebih besar dari pada akhir zaman es terakhir. Menurut para ahli, terakhir kali Bumi mengalami konsentrasi CO2 yang sebanding tiga sampai lima juta tahun yang lalu, pada pertengahan-Pliosen Epoch. Iklimnya kemudian 2-3C lebih hangat, dan permukaan laut 10-20m lebih tinggi karena mencairnya lapisan es di Antartika dan Antartika Barat.

"Tingkat pertumbuhan CO2 hingga 3ppm pada tahun 2015 dan 2016 sangat ekstrim. Sangat mendesak untuk beralih secepatnya dari bahan bakar fosil," kata Prof Euan Nisbet dari Royal Holloway University of London, Inggris.

"Kami memiliki banyak solusi untuk mengatasi tantangan ini. Yang kita butuhkan sekarang adalah kemauan politik global dan perasaan mendesak," tambahnya.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar